Sabtu, 12 November 2011

film film yang harus di contoh oleh anak muda jaman kini

KOMPETISI DOKUMENTER INDONESIA 2007

Kompetisi Film Dokumenter Indonesia adalah program utama Festival Film Dokumenter 2007 yang dirancang untuk memberikan apresiasi dan penghargaan bagi karya-karya terbaik yang dihasilkan oleh para kreator. Kompetisi ini diharapkan menjadi barometer dalam penyelenggaraan festival sejenis dan menjadi ajang uji karya bagi film-film dokumenter Indonesia mutakhir dan terbaik.
Kompetisi dibagi dalam dua kategori, yakni Kategori Pemula dan Kategori Umum. Kompetisi Kategori Pemula/Firsttime Filmmaking bertujuan untuk memberikan stimulan kepada anak muda/filmmaker pemula untuk mulai berkreasi atau memproduksi film dokumenter, sedang Kompetisi Kategori Umum/Profesional bersifat terbuka untuk umum, baik profesional independen, rumah produksi, LSM, televisi dan lembaga media, maupun institusi khusus lainnya.

Dewan Juri Kompetisi Film Dokumenter Indonesia FFD2007.
Juri Final Kategori Umum:
a.    JB Kristanto, telah mulai menulis kritik film di usia duapuluhan sampai kemudian menjadi wartawan harian Kompas, dengan spesialisasi bidang-bidang kebudayaan, termasuk film, selama lebih dari tiga puluh tahun. Tulisan-tulisannya dibukukan dalam Nonton Film Nonton Indonesia (2004), kumpulan tulisannya di harian Kompas tentang dunia perfilman indonesia sejak tahun 1972, mulai dari reportase, resensi hingga tinjauan kritis. Ia juga menyusun buku Katalog Film Indonesia (2005), kumpulan resensi film-film Indonesia dari tahun 1926-2005. Ketua Dewan Kurator Bentara Budaya ini juga beberapa kali menjadi juri Festival Film Indonesia, Festival Film Pendek IKJ, dan Festival Film Dokumenter (2005 dan 2006).
b.    PM Laksono, adalah pengajar di Antropologi UGM. Saat ini peneliti di Pusat Studi Asia Pasifik UGM. Ia menjadi juri utama Festival Film Dokumenter (2002-2003) dan Jogja-Netpac Asian Film Festival (2006). Selain itu, ia juga pernah menulis beberapa buku. Di antaranya adalah:     Kekayaan, Agama dan kekuasaan: Identitas dan konflik di Indonesia Timur Modern, Pergulatan Identitas Dayak dan Indonesia: belajar dari Tjilik Riwut, perempuan di Hutan mangrove: Kearifan Ekologis Masyarakat Papua
c.    Alain Compost, berasal dari Perancis dan saat ini menetap di Bogor, Jawa Barat. Ia aktif dalam gerakan pelestarian lingkungan hidup, selain sebagai fotografer, kameramen, dan sutradara film dokumenter bertema wild life dan lingkungan hidup, antara lain untuk The Animal Planet, National Gegraphic, International Wildlife, BBC Wildlife, dan beberapa televisi di Perancis.
d.    Seno Gumira Ajidarma, adalah sastrawan, wartawan, fotografer dan kritikus film, sekaligus pengamat budaya. Dosen IKJ ini menyelesaikan pendidikan di IKJ (S1), Magister Ilmu Filsafat UI (S2), dan Doktoral Ilmu Sastra UI (S3). Karya tulis untuk menyelesaikan studinya di IKJ telah dibukukan dalam Layar Kata: Menengok 20 Skenario Pemenang Citra FFI 1973-1992 (2000). Ia juga telah menulis lebih dari dua puluh judul buku, baik karya sastra, kritik film, kajian budaya, esai populer, dan fotografi. Sebagai sastrawan, ia meraih penghargaan SEA Write Award (1987), Dinny O’Hearn Prize for Literary (1997), dan Khatulistiwa Literary Award (2005).
 Juri Kategori Pemula:
a.    Zam-Zam Fauzanafi, aktivis dan peneliti antropologi visual. Pendiri Rumah Sinema dan editor jurnal kritik film Clea ini juga aktif di Kampung Halaman, sebuah lembaga advokasi media audio visual.
b.    Budi Irawanto, pengajar di Ilmu Komunikasi UGM. Ia menjadi direktur Jogja-Netpac Asian Film Festival, peneliti dan penulis kajian media dan komunikasi, di antaranya telah diterbitkan menjadi buku, yakni Film, Ideologi, dan Militer: Hegemoni Militer dalam Sinema Indonesia dan Menguak Peta Perfilman Indonesia.
c.    Seno Joko Suyono, banyak menulis telaah seni dan budaya sejak masa mahasiswa di Fakultas Filsafat UGM. Ia menjadi wartawan D&R kemudian di majalah Tempo sampai sekarang. Tulisannya yang telah dibukukan adalah Tubuh yang Rasis: Tekaah Kritis Michel Foucault atas Dasar-Dasar Pembentukan Diri Kelas Menengah Eropa (2002) dan “Keluar dari Voyeurisme Oskar dan Ekshibisionisme Siren” dalam Wild Reality: Refleksi Kelamin dan Sejarah Pornografi (2003). Bersama Benny Benke, ia membuat film Gerimis Kenangan, dari Sahabat Terlupakan yang menang di Festival Film Indonesia 2006 untuk kategori film dokumenter






Kategori Pemula (beginner)

Anakku Bukan Penjarah
Zainal Abidin, Jakarta, 13 min, prod: BSI, 2007
Kerusuhan Mei 1998 masih menyisakan perih di hati para keluarga korban, sembilan tahun telah berlalu tapi cap "penjarah" masih melekat bagi para korban. “Anakku Bukan Penjarah” adalah jeritan para keluarga korban yang selama ini terbungkam.
In 1998, riot happened in Indonesia who called ‘Kerusuhan Mei 1998’. This riot still leave smart hurt for family victim. Although it has left nine years, but predicate as plunderer still stuck for the victim. “Anakku Bukan Penjarah” tells us about family victim expressions who keep silent completely for nine years.



Bumi Khayalan
Nanki Nirmanto, Purbalingga, 7 min, Prod: BOZZ community, 2007
Pengrusakan lingkungan tidak hanya terjadi di kota besar saja, di kota kecil pun sudah terjadi. Pengrusakan lingkungan pada dasarnya diawali oleh tangan manusia sendiri. Baik melalui limbah pabrik, maupun pembuangan sampah oleh masyarakat yang menyalahi aturan. Asap-asap kendaraan bermotor pun ikut menyumbangkan polusi udara. Hutan yang diharapkan dapat menetralkan lingkungan justru sudah rusak akibat faktor alam maupun ulah para manusia.
Environment destruction not only occur at a big city, but happened at small city. The beginning of an environment destruction came from human activity, for example useless waste water from a factory, and violate rubbish throwing. Transportation smoke contributed air pollution too. And now people can’t handled the pollutant just by the forest, because of their carelessness.



Di Antara Lamunan dan Gerbong
Garry Vichardo Maghasty, Jakarta,10 min, Prod: BSI, 2007
Menceritakan tentang Komeng, seorang penyapu gerbang yang jauh dari perspektif anak-anak jalanan lainnya. Hidupnya bergulir, di antara gerbong kereta, demi mencari uang untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya.
Komeng, a railway coach broom who came from far away, and different from the other street child. He spent his life on railway coach, earn money to meet the needs of his family.



Paggoyang Caddia
Lusyanne Erhid Salla dan Syamsir , Makassar, 16 min, Prod: In docs, 2007

Yusuf, si penggoyang Caddia, putus sekolah sejak kelas tiga SD. Di usia 10 tahun ia kerap menggeluti pekerjaan menggayuh becak selama empat tahun dan kerap mengalami kekerasan baik di rumah maupun di jalanan.

Yusuf is Caddia swayer, he has broken school since he was on 3rd class. On 10 years old, he often a violence either at home and at school. He likes do his job as a caddia swayer.




Share the World
Nendra Primonik, Yogyakarta, 9 min, Prod: YLIP, 2007
Sekolah, rumah sakit, taman kota, dan pusat perbelanjaan adalah fasilitas yang bisa diakses dengan nyaman, jalan yang bisa dilalui dengan mudah, dsb. Tanpa aksesbilitas, bagaimana para difabel ikut menikmati fasilitas tersebut?
School, hospital, public garden, and supermarket is public facility we can accses easily and comfortly. Without their accesbility how the person who have physical disibality can use the facility?



Songo Sewu Sonosewu
Alvi Apriyandi, Yogyakarta, 5 min, Prod: Seven Pictures, 2007
Pak Bewok panggilan akrab seorang "timer" di daerah Sonosewu. Profesi ini telah digelutinya sejak tahun 1992. Anehnya bis yang melewati daerah ini hanya yang berjalur 9. Seribu rupiah adalah hasil yang diperoleh Pak Bewok dari satu bis yang melewati daerahnya.
Mr Brewok is a bus timer at Sonosewu, Jogjakarta. He has been a bus timer since 1992. Unfortenately, only bus number 9 covered his territory. So, he just earn one thousand rupiahs from each bus passed his territory

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

bila ada yang kurang silahkan berkomentar