Kamis, 28 Juni 2012

CERITA HUMOR

HUMOR


Faqih: Eh… Bet! Mana kalimat yang benar?
A. Anak Yatim itu dipukuli ayahnya.
B. Anak yatim itu dipukulkan ayahnya.
Albert: Pasti . . . Anak yatim itu dipukuli ayahnya dong!!!
Faqih: Salah.
Albert: Apaan dong!!!
Faqih: Nggak ada yang bener, anak yatim mana punya ayah…

setiap kamu merasa bete
lihatlah ke kaca dan bilang
"aku benar-benar ganteng!"
pasti itu akan membuatmu bersemangat
jangan lakukan terlalu sering
soal nya ..bohong itu dosa

Kalau binatang punya facebook kira-kira statusnya kaya gini kali yaaa...

* Anjing pudel : Nunggu di jemput chayangku mo ke salon neeh...
* Kecoa : Baru aja selamet dri injekan maut...
* Kucing : Anak gw yg ke7 barusan nanya sapa bapaknya, gw bingung mw jwb apa, gw sendiri lupa bpknya siapa...
* Nyamuk : Gw positif HIV AIDS, gra2 salah isep, hiks...
* A...

Darsono, Wardi, Sugeng dan Jono janjian mengadakan reuni
di Restoran CJDW. Sambil makan, mereka berempat
ber-bincang² sambil bernostalgia.
Setelah makan Darsono pamit meninggalkan teman²nya sebentar
untuk nyanyi karaoke, “Minta lagu apa Rek? Last Kiss tah?”

Sambil mendengarkan Darsono nyanyi, teman²nya melanjutkan obrolan
mereka. “Bagaimana anak anakmu ...
Sugeng bercerita: “Oo, baik² saja, anak saya kan dua.
Yang cewek ikut suaminya jadi Kapolres di Medan. Sedangkan
yang cowok sudah jadi boss, pabriknya dua, pabrik sepatu
dan pabrik mie. Tapi ya gitu…, saya yang jadi bapaknya
saja ndak pernah dibelikan motor sama sekali, eeeh… pas
kemarin pacarnya ulang tahun dibelikan BMW 318i gress.”

“Lha kalau anakmu War?” Wardi pun bercerita, “Anakku
tiga cowok semua, yang dua kerja di Amerika, yang
bonthot sekarang sudah jadi direktur developer rumah.
Tapi agak gendeng juga anak saya yang bonthot ini.
Rumah bapaknya sudah doyong dibiarkan aja, tapi waktu
kemarin pacarnya ulang tahun di belikan rumah baru.”

“Kalau kabar anakmu bagaimana Jon?” Sekarang Jono yang
cerita, “Anak saya empat, cowok satu, cewek tiga.
Sekarang sudah pada mandiri. Yang paling sukses ya
anakku yang cowok. Sekarang jadi pialang saham.
Cuman ya agak nggak bener juga. Lha… saya ini nggak
pernah di kasih uang sama sekali, tapi kemarin waktu
pacarnya ulang tahun di kasih deposito 100 juta.”

Setelah Jono cerita, Darsono selesai karaoke, “Nyritain
apa sih Rek?”. “Ini lho Dar, pada nyritain anaknya,
gimana anakmu Dar?” tanya Jono. Setelah
nyalain rokok, Darsono mulai cerita:

“Anakku cuma satu, tapi payah. Aku ingin dia jadi ABRI,
eeeh malah jadi bencong. Sudah lima tahun dia buka salon,
dari dulu sampek sekarang ya teteeep aja nyalon. Tapi
meskipun bencong dia tetep anak ku. Apalagi dasarnya
anaknya itu baik, pergaulannya luas dan sayang sama
bapaknya. Setiap dapat rejeki saya pasti diberi.
Kemarin pas dia ulang tahun, ada temannya yang ngado
BMW 318i gress, rumah baru, dan deposito 100 juta.
Dia bilang semua itu buat bapak saja, dia
tetep seneng buka salon saja katanya.

Lha… saya ya seneng sekali, kalau ndak gitu…
mana bisa saya nraktir kalian semua. Lha mobil yang
saya pake untuk nganterin kalian itukan dari
anak saya juga”


pocong bernyanyi


Ada seorang penjaga kuburan yang sedang memeriksa kuburan pada waktu makam hari. Lalu ia terkaget karena melihat pocong yang baru saja bangkit dari kuburnya. Orang itu segera kabur karena takut.

Tetapi anehnya setiap 10 kali lompat pocong itu selalu jatuh, dan seperti itu terus.

Orang itu bingung dan ingin tahu apa yang terjadi pada pocong itu.

Ia mendekati pocong itu dan ia mendengar kalau pocong itu bernyanyi "Jatuh bangun aku mengejarmu.."

HUMOR

 

ada seorang turis (bule) datang ke Indonesia ,,tujuannya mau ke daerah pedalaman tempat wisata,,,bule ini sdh paham bhs Indonesia (belajar dari kamus di universitasnya lalu)
setelah keluar dari hotel,,bule ini cari transportasi,,maka dia dapatkan sebuah mikrolet,,,,,antar supir mikrolet yg satu dan yang lainnya saling berebutan penumpang , mereka sering saling bercanda antar supir dengan kata2 yg kasar atau jorok,,,

#supir A ,: goblok lu ,semprull lu,,,,!!!
#supir B ,; lu tu yg guoblok ,,!!

si bule bingung ,,gak tau artinya goblok itu apaan karena tidak ada dalam kamus,,,
maka si bule menanyai supir yg di tumpanginya,,,

#bule ,; ,,e.....pak supir(dgn dialegnya bule) apakah artinya itu goblok dengan semprull ..?

sisupir ini berpikir dlm hati,,ini bule,,,saya harus menjaga nama baik negara saya,,tdk boleh bicara yg jorok2,,,maka sisupir menjawab

#supirA ,; mister,,,goblok itu artinya cakep,bisa juga cantik,bisa juga artinya indah,,,,kalau semprul ,mister itu artinya ,baik tidak jahat,,,"
#bule , ; ooo...itu artinya,,,,,,,,kalau begitu pak supir ini guoblok dan semprull ,,
#supirA ,; (dalam hati) sialannn,,,,,XX??!!!???XXXXXX>???@@!!#$^ (dgn terpaksa menjawab) " terima kasih mister "

Rabu, 27 Juni 2012

CERITA KOCAK

Kondektur koplak

Di stasiun Gambir, seorang kondektur tengah memeriksa tiket para penumpang disebuah gerbong kereta, Sehingga terjadi percakapan sebeagai berikut :

Kondektur : Bapak turun dimana ?
Penumpang : Surabaya
Kondektur : Maaf, Bapak salah jurusan..silahkan naik kereta yang lain..!
Penumpang : ???

Kemudian sang kondektur berjalan ke barisan tempat duduk yang di tengah

Kondektur : Ibu turun dimana ?
Penumpang : Surabaya pak…
KOndektur : Maaf, Ibu salah jurusan silahkan naek kereta yang lain..!

Sang kondektur melanjutkan pemeriksaan tiketnya di barisan tempat duduk yang paling belakang

Kondektur : Mas turun dimana ?
Penumpang : Surabaya pak, kenapa ??
Kondektur : Maaf mas, salah jurusan. Naik kereta yang lain….!

Seluruh penumpang pun kesal, karena merasa telah naik kereta yang benar. Akhirnya mereka melapor ke Kepala Stasiun. Setelah Ka Stasiun datang langsung menanyakan kepada sang Kondektur.

Ka Stasiun : Kenapa semua penumpang kamu suruh turun ?
Kondektur : Mereka salah jurusan pak…
Ka Stasiun : Coba saya liat tiketnya…
Kondektur : Ini pak..
Ka Stasiun : Dasar koplaakk… Ini kereta jurusan Surabaya, Elu Kondektur jurusan Semarang… Naek kereta yang laen .!!

Lumayan gan, bikin gigi kering

Bu Inem pergi periksa ke dokter.
“Kenapa Anda, Bu?” tanya Pak
dokter.
Bu Inem kemudian bercerita, “Ini
Dok, sudah sebulan ini saya kok
jadi sering kentut. Dalam 1 jam
saya bisa kentut sampai 10 kali,
tapi untungnya kentut saya ini
gak bau sama sekali dan tidak
bersuara, jadi tidak ada yang tau.
Lha ini aja pas saya duduk di
depan dokter udah 3 kali saya
kentut. Tapi dokter gak tau kan,
sebab itu tadi kentut saya tidak
bau dan tidak bersuara. Tapi saya
jadi gak enak sendiri, masak
perempuan kentutan.”
“Oh begitu ya, kalau begitu tebus
saja resep ini, seminggu lagi
kembali ke sini ya.” kata dokter.
Seminggu kemudian Bu Inem
kembali ke dokter.
“Sudah baikan?” tanya dokter.
“Saya gak tau obat apa yang
dokter berikan minggu lalu,
hanya saja kentut saya kok jadi
bau busuk gak karu-karuan ya,
sampai saya mau jatuh ngejeblak.
Tapi untungnya kentut saya tetap
tidak bunyi.” kata Bu Inem.
“Berarti hidung Anda sudah tidak
mampet lagi, sekarang tebus
resep ini ya.”
“Obat apalagi ini, Dok?” tanya Bu
Inem

“Obat budek…”
Seorang murid disuruh nyanyi ke depan kelas oleh gurunya.

Murid (nyanyi dg suara kecil): "Cicak2 di dinding.."
Guru : "Gedein Sedikit!!"
Murid : "Tokek2 di dinding.."
Guru : "Gedein lagi!.."
Murid : "Buaya2 di dinding.."
Guru : "yg di gedein itu suara kamu, bukan binatangnya."
Murid : "Kalo suara yg di gedein, saya adzan saja."
Guru : iya sudah, kamu adzan aja.
Murid (dgn suara yg besar) : "Allahu akbar2..."
Guru : "besarin lagi!!!
Murid : "gak ada lagi pak yg lebih besar dari Allah, Allah Maha Besar."
Guru (kesal n marah) menggumam : "Iya sudah Allah Maha Besar, tapi nilai kamu kecil."
Murid : "Gedein dong pak."
Guru (berteriak) : NILAI KAMU KECIL!!!!
Murid : "yg di gedein itu nilai saya pak, bukan suara bapak!!,
Guru : (goplak, suara buku melayang ke muka si murid, hrrrrggg)....

Kumpulan plesetan iklan yang di masukkan dalam dunia perkuliahan

1. Ingin kuliah lancar? Minum VEGETA setiap hari

2. Ingin skripsi lebih selesai dgn cepat? Pake MOLTO ULTRA sekali bilas

3. Mau cepet ngerjain soal UAS ? Pake RINSO kekuatan 10 tangan!

4. Dosen: kertas UAS kamu kenapa kosong? | mahasiswa: pake BAYCLEAN, kertas putih seperti baru!

5. Sayangi IP-mu!! GARNIER

6. Pak, katanya cuman 4 soal, kok ini jadi 5 | Satu lagi dari
MAYORA….

7. Jawaban ujian bocor ? pake NODROP, pelapis soal anti bocor

8. PA (Pembimbing Akademik): nilai kamu kenapa C semua? | mahasiswa: saya minum UC1000, mengandung 100% nilai C!

9. Dosen: gimana uasnya? | Mahasiswa: MAMAMIA LEZATOS

10. Skripsi mampet? Ya DIAPET

11. skripsi BAB 4 trsendat? minum VEGETA, BAB lancaaaar….

12. Dipanggil KaJur karena bermasalah? SARIWANGI, mari nge-teh
mari bicara

13. Dosen : Kamu nyontek ya?!?!?! | mahasiswa : Cuma REJOICE kok

14. Maaf bapak telat | emang darimana pak? | dari TELKOMSEL

15. Ini jawaban punya siapa..? | Punya INDOSAT

16. Jadwal kuliah ketat? Minum WRP aja. Sure u can do, a healthy schedule

17. IP turun? Jangan khawatir, Pake KOZUI SLIMMING SUIT, mengencang IP sehingga naik 2 cm.

18. Kamu habis UAS ya? | Engga kok, cuma pake shampoo.

19. Maaf pak boleh bicara sebentar? | Bicara 30 menit hanya bayar 6 menit.

20. Mahasiswa : Pak, IP saya berapa? | Dosen : 2,4 | Mahasiswa : Kalo 3,4 boleh gak pak ? | Dosen : Jangan ditawar (pingsan)

21. IP-mu mengalihkan duniaku

22. UAS dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, dan gangguan kehamilan dan janin

23. Eh, ada gak sih yang lebih bagus dari pak Z kalo ngasi nilai? | Yang lebih bagus ? Yang lebih mahal, banyak.

24. Kok nilai IP gue tinggi ya ? Karena otak ga pernah bohong

25. Bebas tugas, bebas memilih IP, bebas kapan mau lulus. MAU? hanya di tri

26. Banyak kata kerja dalam kamus bahasa Indonesia | nyontek, ngulang, ngebet, nongkrong, ngekost, molor, bolos, ujian, nonton

27. (di ruang rektorat) A : Permisi, Pak Rektornya ada ? | B: Lagi keramas

28. Mahasiswa cowok: Bu, kok nilai UTS saya cuma dapat 30 ? Kecil banget ? | Ibu dosen: karena cowok suka yang minim

30. Besok UAS tapi nggak belajar?? APA KATA DUNIA ??1.

31. dapet E ?! Enjoy Aja

32. Dosen: kenapa milih saya jadi pembimbing kamu? | Mahasiswa: Ga ada loe ga rame !

33. Nggak ada UAS, Ya nggak belajar

34. Mengulang kuliah itu hal biasa, life is never flat

35. Dek, mau coba kerjain soal uas saya gak? | Gak ah bang, buat anak kok coba-coba

36. Sesudah UAS berasa healthy inside fresh outside #UC1000

37. Bimbingan putus-putus? Kami ganti

38. Begitu tau dosen ga masuk itu, kaya ngebelah atmosfir berlapis-lapis, Menuju rasi bintang paling manisss….

39. Dosen: Apa susahnya dapet A, masuk ga pernah, UAS ga pernah. Mahasiswa: Aku ga punya KRS!

40.Cara supaya kita deket sama dosen? | dilihat, diraba, diterawang.

41. UAS – connecting people

42. Kok suka banget sih duduk paling depan? | Ya dong, soalnya kursi ini anti kerut anti bocor

43. UAS duduk di depan: Terdepan Mengabarkan

44. Cewe: Yank, Aku nggak kuat hafalin kisi kisi UAS | Cowo: Tinggal lep… Tinggal lep…

45. Dosen: kita ga jadi quiz. Mahasiswa: I’m lovin it

46. Punya masalah dengan nilai UAS !| PEGADAIAN *mengatasi masalah tanpa masalah*

47. Yang ini ngulang…. Yang ini enggak..

48. Dosbing: Kenapa sih kamu kalo nulis skripsi kayak curhat
begini? | Mahasiswi: karena wanita ingin dimengerti

49. Santai belum lengkap tanpa SeKRIIPSIII….

50. IP gue kecil banget, nih. Elo gimana? | Gede sih, tapi, rela bagi-bagi ?

51. Pikiran pecah-pecah gara-gara Skripsi? Ademkan dengan ADEM SARI.

52. Anak ibu IP-nya rendah? Oooh tentu tidak, kan udah minum COMBANTRIN

53. Males kuliah dan bolos terus? STOP dengan ENTROSTOP

54. Nilai saya 4 ! Mau seperti saya, berlatih keras dan makan sosis SO NICE!

55. Mau kuat waktu ditanya pas sidang skripsi? Pake MITO! Handphone nya Master Limbad.

56. Ngantuk di kala dosen mengajar? Tuntaskan dengan KALPANAX.

57. Gak nyaman ngerjain UAS ? makanya pake aki GS ASTRA, nyamannya ekstra

58. Ingin jawaban UAS berbobot? Minum L-Men! Trust me, it works

DONGENG SUNDA ASLI

TILU SATO

Ajag ngomong ka bancet : “Naha maneh asoy-asoyan bae, mun digawe barangsiar cara batur”. Wangsulan bancet : “Hih lain teu digawe, puguh kaula teh sieun, krur diintip-intip bae tuh ku bango, rurupaanana kawas rek neureuy bae ka kaula teh”.
Ajag malik nanya ka bango : “Naha silaing bango, goreng-goreng teuing, teu hade kitu ka sasama mahluk mah”.
Jawab bango:”Teu pisan-pisan kaula rek nganiaya bancet. Ongkoh sampean anu goreng teh, ti tadi mula ngunguntit bae ngarah kaula. Didodoho diarah bongohna. Hadena bae kaula caringcing”
Ajag eraeun tuluy bae balik.


AJAG JEUNG ANJING.
Ajag papanggih jeung anjing di sisi huma. Anjing nanya:“Rek kamana sakadang ajag?“
Jawabna:“Teu, rek nyaba bae“. Cek anjing:“Tibatan nyaba teu puguh mah anggur urang nyampeurkeun manusa. Geura manusa mah bageur sok mere kahakanan nu ngareunah“
Omong ajag:“Hayu atuh dewek milu“
Teu lila jol paninggaran rek moro ka leuweung. Anjing nyampeurkeun bari kupat kepot malar dipikarunya. Ku paninggaran dicetrekan bari diheotan. Lung dialungan leumeung ketan sapotong.
Ajag nyampeurkeun bari nyanggerengan. Paninggaran gancang nyabut pedang. Barang rek dikadekeun, ajag ngejat lumpat ka nu bala bari ngomong :“Edas bae, kutan manusa teh sakti, igana hiji dicabut, rek diteunggeulkeun ka aing. Lamun aing teu gancang ngejat mah tangtu paeh“.
„Ah ti serek ayeuna aing moal deui-deui nyampeurkeun bangsa manusa“.
MAUNG, EMBE JEUNG AJAG

Ajag ngomong ka embe : „ Bagea sakadang embe, tas ti mana, naon bae nu diseja datang ka kaula teh?“
Jawab embe:“Puguh kaula teh keur meunang kasusah banget pisan. Nu kagungan leuweung geus meunang dua peuting ngulincer bae di pakarangan rek ngarah kaula“.
Jawab ajag : „ Hih tai ceuli teuing sakitu mah. Tah tektek seupah bae sing ngabulaeh. Aing tuturkeun ayeuna ka tempat maung“.
Pek embe dipapatahan piomongeunana.
Barang ajag keur adu hareupan guntreng cacarita jeung maung, embe datang bari cupak capek, sungutna beureum kawas tas nguyup getih bae.
Cek ajag : „ Aeh sakadang embe, tas ti mana, kadieu eureun heula“.
Jawab embe : „Lah puguh tas mumuluk, bieu di lebak manggih maung keur nundutan, gede teh. Diteunggar ku kaula, ngan sakali pisan, sek bae paek. Tuluy bae dikecrokan polona, alah aya pulen. Lamun dewek nyaho yen silaing aya di dieu, meureun dipangjingjingkeun atina. Ayeuna silaing boga eta hiji nya?. Polona bagian dewek, keur nyeubeuhkeun. Dagingna katut tulang-tulangna mah top bae jang silaing“
Barang maung ngadenge omongan embe kitu, ngejat bari ngagaur, sieuneun ku embe, asup ka jero leuweung.
Ti harita maung tara ngintip-ngintip deui ka eta embe.


BADAK JEUNG SAGALA SATO.

Hiji mangsa sagala sato dina hiji leuweung daratang nepungan peucang,
Cek Peucang :“ He batur-batur naon pikarepeun sampean daratang kabeh ka kaula?“
Jawab sapi kolot :“ Kieu ujang, kaula teh sabatur-batur nu matak daratang ka dieu rek menta tulung pangmaehankeun badak, karana kekebonan kaula kabeh ruksak diranjah ku badak. Geus
sababaraha kali dicaritakeun tapi teu daek ngagugu bae. Ayeuna kabeh kaula nyanggakeun, sing karunya bae ka kula jeung ka batur-batur“.
Jawab peucang : „Keun bae, eta mah kumaha kaula bae“.
Pareng peucang papanggih jeung badak.
Cek peucang : „Kiyai, naha kiayi geus ngadangu carios yen maung Raja leuweung ieu rek liren tina ngasta karajaan. Kaula hayang pisan dirajaan ku kiayi. Pantes pisan mun jadi raja, aya gagah, sakti, tambah-tambah kaumbang ku dedeganana, geus teu ningnang jadi raja teh.
Jawab badak : „Atuh puguh hayang mah. Ngan kumaha piakalaneunana“
Omong peucang : „Hih gampil, engke wengi urang sarare bae di patapan kuring di gawir Si
Lungkawing, sugan pinareng aya ilapat nurbuat ragrag ka kiayi“.
Geus peuting dug ngaredeng di sisi gawir, ari badak beh tengah. Barang geus peuting pisan peucang pindah lalaunan. Tuluy ngomong lalaunan :“Kiayi, iser ditu, kuring sieun ragrag, ieu tember pisan!“.
Badak teh teu rarat reret deui, tuluy ngeser. Ana gurubag teh badak tiguling ka lebak nu jungkrang pisan, nepi ka hanteuna.


BANGSAT JEUNG GAMPARAN.

Aya bangsat maling munding ti urang lembur. Ku manehna dibawa baris dijual ka sejen tempat. Nu boga nyusul. Ti kajauhan keneh geus katembong, bangsat teh keur nungtun munding. Nu boga bingungeun kumaha piakaleunana sangkan eta munding kapimilik deui. Ari rek dipaksa direbut teu wani, turug-turug teu aya batur sahiji.
Tuluy leumpang gancang motong jalan jajahan, megat pijajalaneun bangsat tea. Sok manehna neundeun gamparan sabeulah di pijajalaneun bangsat tea. Tidinya manehna nyumput. Barang bangsat ngaliwat ka dinya, eta gamparan teh dicokot ku bangsat teh tapi dilesotkeun deui. Tidinya nu boga munding, lumpat maju ka hareup, sok neundeun gamparan sabeulah deui di tengah jalan. Manehna nyumput deui di nu bala.
Barang bangsat nepi ka dinya, tuluy ngarandang nyokot gamparan bari semu mikir. Mundingna dicangcangkeun kana tangkal kai. Bangsat balik deui ka tukang rek nyokot gamparan nu tadi dilesotkeun tea.
Sabot bangsat keur nyokot gamparan, nu boga munding teh gancang nyokot mundingna dibawa balik, salamet nepi ka imahna.


KIAYI.

Aya hiji kiayi hayang boga minantu ka tukang macul. Hiji poe datang sudagar nanyaan, tapi teu ditampa, sabab waktu sasalaman jeung kiayi karasa leungeunna lesang, jadi katangen yen lain tukang macul.
Sababaraha jelema nu nanyaan teu ditampa bae, da leungeunna teu karadak. Kadenge ku nu lolong, yen kitu rahasiahna kiayi, tuluy leungeunna dibalur ku ketan, jung indit ka kiayi. Datang-datang tuluy sasalaman, cek pikir kiayi : Ah keun bae lolong-lolong oge da leungeunna mah karadak, tangtu ieu tukang macul.
Cek Kiayi: „Sampean montong mulang deui, bakal dikawinkeun ayeuna ka anak kaula“.
Isukna minantuna dititah macul ka sawah, tengah poe pamajikanana nganteuran.
Sudagar nu nanyaan pangheulana tea, teu ngeunaheun, panas hatena, tuluy nuturkeun ka sawah. Nu lolong teh diosol sarta dibere duit ku sudagar supaya mikeun pamajikanana jeung nyingkah ti desa eta. Ari pamajikanana baralik jeung sudagar, sadatang-datang anakna cacarita ka bapana, nyaritakeun yen salakina jadi beunta henteu lolong.
Jawab bapana :“Alhamdulillah nyai, sukur..sukur..!“.


ANAK TUKANG BOHONG.

Si Salham anak tukang bohong. Geus kaceluk kamana mendi yen Bapa Salham jelema gede wadul, gede omong, sumawonna tatangga-tatanggana mah geus teu aya nu percaya saurang-urang acan kana omong Bapa Salham teh. Lamun aya jelema ngawadul cek baturna teh “Silaing mah kawas Bapa Salham bae”.
Barudakna ge salembur eta mah geus nyarahoeun kabeh, nepi ka nelah Si Salham anak tukang wadul. Sakali mangsa mah Si Salham kacida ngenes atina, dumeh rek milu ulin ku baturna teu dibawa, pokna:“Montong ulin jeung Si Salham bisi katepaan wadul, da anak tukang bohong, meureun manehna ge gede bohong”. Tina ngenesna, tuluy balik ka imahna bari jamedud. Manehna teh ngomong bae di jero atina ku hayang ngabuktikeun omong batur-baturna, naha enya bapana teh ahli wadul atawa pitenah bae.
Kabeneran barang datang ka imahna, cek bapana :” Salham isukan mah maneh ulah ulin, urang ngala suluh ka leuweung”. Walon Si Salham heug, Di jero atina manehna ngomong:” Nya ayeuna bisa nyelok ka bapa teh”.
Kacaritakeun isukna isuk-isuk bral arindit ka leuweung, mekel timbel, deungeunna oncom jeung sambel, da lalabna mah di leuweung ge loba. Ari Si Salham mawa wajit deui hiji diselapkeun dina calana. Barang nepi ka leuweung, cek Si Salham:”Euleuh, bapa....itu badak”.
Omong bapana:”Euleuh heueuh, deuleu itu anakna aya dalapan”. Cek SiSalham:”Mana bapa?”. Cek bapana deui:” Tuh geuning ka lebak”. Padahal euweuh badak, euweuh naon-naon.
Si Salham ngomong di jero atina:” Beu, enya, manahoreng bapa teh tukang wadul. Tidinya ger maranehna ngala suluh. Kira wanci pecat sawed Bapa Salham jeung anakna areureun di handapeun tangkal kai rek murak bekelna, ari lalabna mah geus ngunduh, bongborosan jeung pupucukan, keur bawaeun balik ongkoh sawareh..
Kacaritakeun deukeut ka dinya aya susukan gede. Sanggeus entep barang daharna, kesang geus pepes jeung geus reureuh capena, Si Salham ngomong, pokna:” Bapa, kula hayang mandi heula, cing anteur”. Tuluy Si Salham jeung bapana ka cai. Barang datang ka cai Si Salham mandi, tapi calanana dipake bae, lep teuleum. Barang bijil deui tuluy hanjat, pok ngomong ka bapana :”Euleuh bapa, mana horeng di jero cau teh aya lembur, di dinya aya nu keur kariaan, kaula ge dibawa ngariung, tah ieu berekatna ngan mawa wajit we hiji”. Walon bapana:”Aeh aeh na enya?. Cing bapa rek kaditu”. Tuluy Bapa Salham turun ka cai, lep teuleum. Ari susukan teh teu kira-kira loba batuna, kawantu susukan di pagunungan. Bapa Salham tidadalagor kana batu, tarangna bancunur. Ari teuleumna mah teu wudu kebel. Tidinya jol deui bijil, tuluy hanjat.
Cek Si Salham:”Kunaon bapa tarang baloboran getih?”. Walon bapana:”Har kapan bapa teh di nu
kariaan ditanggap menca, diadukeun jeung urang ditu, teu wudu rada ripuh diteunggeulan tarang, tapi ari nu eleh mah itu, rubuh ku bapa, teu bisa hudang deui”. Omong Salham:”Na dimana bapa aya nu kariaan?”
“Kapan di ditu di jero cai”
Cek Si Salham:“ Atuh sameureun bapa, kula ku batur-batur sok disarebut anak tukang wadul nepi ka btur teh teu daraekeun dipiluan ulin, kula teh kacida nya ngenes ati. Manhoreng bapa teh lain ka deungeun-deungeun bae ngawadul teh, ka anak ge kitu we. Ari kitu mah bapa teh lain nyontoan bageur ka anak teh. Cing atuh bapa ulah kitu“.
Bapa Salham reup geuneuk ray pias, awahing ku era ku anakna, sarta niat di jero atina rek kapok moal wadul-wadul deui.


TILU RUPA PAMÉNTA.

Jaman baheula aya hiji jalma teuing ku malarat, dahar soré henteu isuk. Ari pakasabannana buburuh ngangon domba. Sanajan manéhna kacida getolna, henteu mahi baé, sumawonna cukup keur sapopoé, sabab panghasilanana leutik. Ari buruhannana dina sabulan téh ukur lima geugeus paré jaba dahar. Demi dununganana jalma beunghar, tapi teuing ku korét jeung licik, ka pangangon téh ngan minteran baé. Upama tukang ngangon domba rék indit ngangon, dibekelan téh ngan ukur sangu jeung uyah sambel, langka pisan dibéré deungeun sangu nu séjén. Lamun keur usum panén, dibéré paré buruhan téh sok dipangmilihkeun paré nu gambrang pisan. Atuh mun dijual téh teu sabaraha hargana, teu bisa keur meuli baju nu pangmurahna. Papakéana geus ruwang rawing pisan, cara jalma nu owah baé. Sakali mangsa tukang ngangon téh gering nepi ka teu bisa ngangon, ku dununganana teu diurus. Barang geus cageur sarta keur mamayu, ngan can kaduga ngangon. Ka dununganana ménta barang dahar teu dibéré da can aya hasil gawéna, nepi ka manéhna jajaluk. Liwat saking prihatin sarta ngenes di jero haténa. Beurang peuting manéhna neneda hayang bisa cara deungeun-deungeun, teu kurang ku dahareun, teu kurang ku pakeeun. Ku tina nyeri haténa, antukna miceun manéh ka leuweung, teu dahar teu nginum. Barang geus meunang sababaraha poé saré di leuweung hanpaeun tangkal kai. Ari hudang bet manggih batu gigireunana tilu siki, sagedé-gedé muncang, baruleud laleucir, kawas batu cao. Teu kira-kira manéhna kagéteunana. Ngomong di jero haténa :“ Na saha nu neundeun ieu batu téh, da tadi mah euweuh“. Sabot kitu kadéngé aya sora tan katingalan, pokna : „ Hé jalma miskin, kusabab manéh sakitu prihatinna, ayeuna paménta manéh dikabulkeun. Manéh meunang ménta tilu rupa, naon baé karep manéh, Unggal rupa paménta éta batu anu tilu kudu dialungkuen hiji-hiji“.
Tukang ngangon kacida atohna, batu dicokot, di kana pesakkeun, bari nyembah acong-acongan, pokna : „Nuhun Gusti, nuhun..!!“
Ti dinya tuluy indit rék balik ka lemburna. Sajajalan émut ngaggelenyu seuri sorangan, awahing ku atoh, bari mikir-mikir rék ménta naon.
Di jero haténa : “ Hiji aing rék ménta beunghar, dua rék menta jadi raja, sanajan beunghar gé ari teu boga kakawasaan mah kurang sampurna, katilu rék menta boga loba anak, sangkan aya nu nuluykeun jadi raja, sarta aya nu ngurus banda pakaya”
Barang datang ka imahna, manéhna rék nyoba ménta beunghar, tapi cék pikirna leuwih hadé menta duit baé sing loba, sabab ari ménta munding atawa kuda mah amba, jeung deui ari geus boga duit mah hayang naon-naon gé tangtu bisa. Tuluy ngodok batu rék dialungkeun bari ménta téa. Tapi ngomongna kacalétot, maksudna rék menta loba duit ari pok bet ménta loba ceuli. Barang keleweng téh batu dialungkeun, ngan reng wé awakna pinuh ku ceuli, kawas tunggul pinuh ku supa lémbér. Atuh manéhna gogoléran ceurik, awahing ku gila ningali awak sorangan, jeung handeueul paménta geus mubadir hiji. Sanggeus rada leler, ngomong di jero haténa :” Ah keun baé teu kudu menta jadi raja, teu kudu loba anak, dapon beunghar baé, ieu batu nu hiji rék dialungkeun deui, menta supaya ceuli leungit kabéh”. Keleweng batu dialungkeun. Les baé ceuli nu rimbil téh ngiles, leungit kabeh. Manehna bungah liwat saking, sarta niat rék ati-ati dina ménta nu katilu supaya ulah kacalétot deui. Dumadak inget kana ceuli nu dua, nu asalna aya, bet euweuh, kabawa leungit ku ceuli ciciptaan. Atuh ngan hing deui we ceurik, leuwih tarik batan tadi, sabab paménta ngan kari hiji deui.
Ngomong di jero haténa : “Kumaha petana, ayeuna lamun aing ménta beunghar tangtu jadi jelema tanpa daksa, teu boga ceuli. Lamun tetep ménta ceuli nu asli balik deui, meureun tetep jadi jalma malarat”.
Tidinya jorojoy baé aya pikiran nu sampurna, cék atina :” Wah leuwih hadé aing ménta didatangkeun deui baé dua ceuli nu asli, sabab saur sepuh gé nu utama mah badan walagri sarta cageur, éta téh leuwih utama batan kabeungharan. Saenyana jalma nu disebut beunghar téh nyaéta jelema nu narima kana kulak canggeum awakna. Saperti diri kuring da geus milikna kudu malarat, ari usaha mah da geus dilakonan. Hanas éta teu boga dahareun jeung pakéeun nya rék ihtiar wé, da anggahota lengkep, tanaga rosa. Anggur rék néangan deui baé dunungan nu bageur tur haat ka diri kuring.
Tidinya batu nu tinggal sasiki téh dialungkeun, ménta ceulina nu asli balik deui sabihari. Harita kénéh awakna walagri deui.

---------------------------------------------------

geugeus : beungkeutan paré kira-kira sagedé bitis budak.
gambrang : paré loba nu hapana.
owah : gélo
jajaluk : baramaén
batu cao : batu pualam
amba : rungkang, matak ridu mamawa.
walagri : séhat, henteu cacat.
rosa : bedas, kuat.
kulak canggeum : nasib, milik diri
gila : rasa teu ngeunah upama ningali barang nu pikageuleuheun
anggur : anggursi, leuwih hadé, mending gé
anggahota : bagian awak
haat : hadé haté
kasab, pakasaban : pagawean, pangupa jiwa
korét : pelit, medit
kaduga : kuat, wani.